Ketiga, perlunya mengatasi berbagai konflik yang terjadi dengan jalan dialog dan perdamaian untuk meminimalisasi berbagai benturan baik dalam kelompok-kelompok Islam sendiri maupun Islam dengan pihak lain.
Keempat, isu formalisasi negara Islam. Menurut Gus Yahya, kehidupan organisasi negara sangat tergantung kepada pilihan terbaik dari masyarakat negara yang menjalaninya.
Baca Juga: Sejarah pahit terulang. Banjir bandang 2009 di Kota Jeddah, datang lagi setelah 13 tahun berselang
Islam , lanjut Gus Yahya, secara spesifik tidak menawarkan bentuk negara. Namun Islam memberi dasar nilai-nilai universal yang bisa dijadikan rujukan dalam membangun relasi sosial dalam masyarakat negara.
Gus Yahya menegaskan, melalui pengalaman panjang Nahdlatul Ulama dalam mengelola dan mengembangkan peradaban Islam di Indonesia, NU memiliki kemampuan otoritatif sebagai representasi Islam untuk memberi penjelasan kepada masyarakat dunia.
“Dunia hari ini perlu membangun cara pandang baru dalam membangun misi peradaban Islam agar peradaban Islam terasa lebih segar dan kontekstual dengan situasi kita hari ini,” terang Gus Yahya.
Baca Juga: Tak hanya curah hujan, inilah fakta lain yang menyebabkan banjir bandang di Kota Jeddah
Untuk mewujudkan hal tersebut, imbuh dia, NU terus bekerja sama dengan berbagai tokoh dan organisasi agama di seluruh dunia, salah satunya melalui pertemuan Religion of Twenty (R20) yang baru saja dilakukan di Bali, Indonesia pada 2-3 November 2022. ***